SELUMA, Buser86.com – Terkait pemberitaan Excavator yang Melintas dijalan raya, yang direspon langsung oleh Praktisi Hukum Ade Wijaya A gumai, SH. dalam hal ini ia menilai sebagai mana bagian Penjelasan Pasal 47 ayat (2) huruf e bagian c UU LLAJ, telah memunculkan norma hukum yang seolah-olah nyata (norma hukum bayangan) yang mengharuskan alat berat untuk memenuhi syarat-syarat teknis dan administratif sebagaimana syarat yang diharuskan bagi kendaraan bermotor pada umumnya, yang dioperasikan di jalan raya.

Padahal, lanjut Ade, meskipun sama-sama berpenggerak motor, alat berat memiliki perbedaan teknis yang sangat mendasar dibandingkan dengan kendaraan bermotor lain yang dipergunakan di jalan raya sebagai sarana transportasi. Alat berat secara khusus didesain bukan untuk transportasi melainkan untuk melakukan pekerjaan berskala besar dengan mobilitas relatif rendah.

“Penggolongan atau penyamaan perlakuan terhadap alat berat akan menimbulkan kerugian maupun mengganggu lalu lintas bagi pengguna jalan,” jelasnya.

Lanjut ade, Pada umumnya alat berat tidak didesain untuk melakukan perjalanan/perpindahan tempat oleh dirinya sendiri. Alat berat yang mampu melakukan perpindahan mandiri (berpindah tempat oleh kemampuan geraknya sendiri) pun memiliki batas kecepatan dan jarak tempuh yang sangat terbatas.

Ia menjelaskan, berdasarkan Undang Undang Nomor 38 tahun 2004 tentang Jalan Bab VIII Pasal 63 dan 64. Harus ada pertanggung jawaban dari rusaknya jalan yang ada di kabupaten Seluma yang disebabkan satu alat berat tersebut.

“Sesuai Pada pasal 63 poin 1 dijelaskan bahwa “Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi jalan di dalam ruang manfaat jalan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 18 bulan atau denda paling banyak Rp 1,5 miliar”, pungkasnya.(mujex)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *