Buser86.com//JATENG- Program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5Ng) yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berhasil menurunkan angka stunting di Provinsi Jawa Tengah. Berkat program ini, setiap tahun angka stunting di wilayah ini terus menurun. Sejak era kepemimpinannya, dari 2013 hingga saat ini penurunan angka stunting di Jawa Tengah mencapai 17 persen.

Data dari Studi Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting di Jawa Tengah tahun 2021 tercatat sebesar 20 persen. Jumlah itu turun dari tahun sebelumnya, yang mencapai 27 persen.

“Itu data SSGI yang sumbernya dari program, sementara kami punya data sendiri berupa laporan riset yang jumlahnya lebih kecil dari itu,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yulianto Prabowo, Jumat (31/12) pada peresmian command center yang dibuat oleh Dinas Kesahatan Jawa Tengah.

Dia menambahkan, data riset soal stunting di Jawa Tengah pada tahun 2013 yang merupakan masa awal kepemimpinan Ganjar Pranowo menjadi gubernur, jumlahnya mencapai 37 persen. Jumlah itu turun di tahun 2018 menjadi 31 persen.

“Sementara di tahun 2021 ini, menurut data riset itu, stunting di Jateng turun menjadi 19,9 persen. Jadi penurunannya cukup bagus,” jelasnya.

Capaian itu, lanjutnya, telah berhasil melampauai target Sustainable Development Goals (SDGs) yang menargetkan angka stunting harus di bawah 20 persen tahun 2030 nanti.

“Kalau dari SDGs kita sudah melampaui target. Tapi pak Presiden memiliki target lain yang lebih menantang, yakni harus di bawah 14 persen. Jadi kita masih akan mengejar itu,” ucapnya.

Atas pencapaian itu, Gubernur mengapresiasi semua pihak yang berperan, meski begitu ia meminta semuanya tidak berpuas diri.

“Dari data itu kita berhasil menurunkan angka stunting, tapi tentu tidak boleh berpuas diri. Kita harus genjot terus program-program dalam rangka menurunkan angka stunting ini,” tegasnya

Gubernur mengatakan, pihaknya telah bekerjasama dengan BKKBN terkait hal ini. Selain itu, pihaknya juga sudah punya program andalan, yakni 5Ng, yang sudah berjalan cukup baik.

“Dengan sistem itu, kita bisa mengetahui yang hamil ada berapa. Tercatat setahun ada 500.000an ibu hamil di Jateng. Kemudian dikerucutkan lagi, yang bermasalah berapa, kalau hanya 20 persen misalnya, ya itu yang jadi interensi kita,” jelasnya.

Tidak hanya soal stunting, program “Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng” juga sangat membantu menekan angka kematian ibu dan anak serta memastikan kebutuhan gizi mereka. Dengan menggandeng BKKBN, maka program-program itu diharapkan akan semakin optimal.

“Kalau roadmapnya sudah bagus, maka kita berani mengatakan akan berhasil berapa persen. Sehingga secara sistematis, kita bisa melaksanakan program dengan baik,” ucapnya.

Terkait command center yang dia resmikan, Gubernur berharap tempat itu untuk mampu memberikan pelayanan pada masyarakat terkait berbagai hal mengenai kesehatan.

“Selain itu, saya juga berharap tempat ini menjadi pusat data terkait kesehatan di Jawa Tengah. Kalau data bisa dikumpulkan, diperbaiki dan valid, maka bisa dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan,” katanya.

Data-data yang dikumpulkan bisa dianalisis sehingga program yang ditetapkan menjadi tepat sasaran, salah satunya dalam penanggulangan stunting.

“Umpama program stunting tadi, kalau datanya presisi (tepat) ada berapa, siapa mereka, ada di mana akan bisa langsung diintervensi dengan bagus. Termasuk soal lain misal penanganan pandemi Covid-19, vaksinasi dan lainnya,” pungkasnya.

Rls-@(Humas)

Bagikan:

Aditya b86

Media Buser 86

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *